Kesempatan kedua kalinya saya kembali menginjakkan kaki di Kab. Purwakarta, dan hawa panasnya masih datang menyelimuti badan ini. Kedatangan saya bersama teman2 Himpunan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam (HIMA-HIMI Persis) Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk menjadi Instruktur/ fasilitator dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diselenggarakan oleh Rijalul Ghad (RG) dan Ummahatul Ghad (UG) Pesantren Persatuan Islam 33 (PPI 33) Al-Manar Purwakarta.
Kegiatan ini terealisasi atas dasar ajakan salah satu sahabat saya, Iqbah Hamba Izzati (Ibang; panggilan akrabnya) yang meminta untuk mengisi kegiatan LDK tersebut di alamamaternya dulu. Jadi kedatangan kami sebelum menuju lokasi kegiatan (PPI 33 Al-Manar Purwakarta) kami sempat singgah dirumah Ibank. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 13 – 15 Maret 2009 ini bagi saya memberi amanat yang cukup berat karena saya di tunjuk sebagai Master of Training (MoT) alias pupuhu rombongan.
Alhamdulillah bagi saya kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan sukses, hal ini tentunya atas dasar ikhtiar yang telah dilakukan teamwork (HIMA-HIMI Persis Kom. UIN) dan do’a yang senantiasa kami panjatkan kepada rab yang maha kuasa Allah SWT.
Perjalanan yang cukup melelahkan bagi kami, tim yang berangkat pertama sebagai tim pendahulu. Kami berangkat dengan jumlah personil 6 orang (yaitu; saya, Wah-U, Ibang, Nday, Hana ‘n Siti). Hampir-hampir kami putus asa, tetapi alhamdulillah dengan motivasi yang tinggi saya mencoba meyakinkan teman-teman saya untuk kembali bersemangat. Pemberangkatan yang rencananya mau naik kreta api di Stasiun Kiara Condong, akhirnya tidak jadi karena keterlambatan kami datang di Stasiun. Kami terlambat sekitar 10 menit setelah kreta api yang kami tuju berangkat lebih cepat dari jadwal biasanya, sehingga kami pun sempat panik karena keterlambatan tersebut. Padahal kami sengaja dengan semangat di pagi itu kami berangkat dari Kampus UIN SGD bandung menuju Stasiun Kiara Condong sejak pukul 06 pagi. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, yaitu mentakdirkan kami terlambat dan akhirnya ketinggalan kreta.
Setelah tantangan yang Allah berikan bagi kami, cukup membingungkan kami juga yang akhirnya kita ke Purwakarta dengan naik Bus Primajas di Terminal Leuwi Panjang. Dari Kiara Condong kami melanjutkan perjalanan naik angkot menuju terminal Leuwi Panjang.
Selama perjalanan saya melihat kelelahan pada teman2, sehingga sepanjang perjalanan di bus semuanya tidur. Sesampai di Purwakarta kelelahan masih saya lihat di waah rekan2 saya, wajah yang kelihatannya tidak fresh ditambah dengan hawa panas Purwakarta yang membuat kami tidak nyaman. Tapi semua itu akhirnya dapat terobati setelah kegiatan di mulai sejak pukul 14.30 dan rekan2 kami pun yang datang menyusul (tim yang berangkat kedua; Ibal S, Salman, Bu Aini dam Bu Via) telah sampe di lokasi pembukaan. Genaplah sudah tim kami, seak itulah suasana kembali cair dan sedikit pencerahan saya melihat dari waah rekan2. setelah pembukaan kami melanjutkan bereefing para instruktur/fasilitator.
Seiring berjalannya waktu, acara demi acara beralan sesuai jadwal yang telah diagendakan. Acara ini terasa ringan dan tenang, kami lewati semuanya dengan rasa kegembiraan dan kesenangan. Dalam kegiatan LDK kali ini saya dfiamanati untuk menjadi fasilitator dalam menyampaikan materi tentang keorganisasian.
Sebagaimana biasa dalam kegiatan LDK, maka permainan panggung sandiwara pun dimulai, ada yang berperan sebagai malaikat yang selalu dekat dengan peserta dan menerima segala keluhan, ada juga yang berperan seorang yang garang yang kerjaannya hanya marah-marah dan inilah instruktur yang dibenci oleh para pesrta.
Kegiatan LDK kali ini diakhiri dengan kegiatan Out Bond, sebagai wahana akrabisasi dan evaluasi materi dalam bentu game, setelah janarinya diadakan renungan malam di Lapangan Purnawarman yang lokasinya tridak terlalu jauh dari pesantren.
Closing ceremony pun digelar tepat pada pukul 11.30 WIB, kami ingin segera beres karena takut ketinggalan lagi kreta api yang ke bandung yang jadwalnya pukul 13.00.
Akhirnya Alhamdulillah, naik juga kreta api. Pada awalnya saya melihat wajah kegembiraan pada waah rekan-rekan saya walaupun saya tau bahwa mereka lelah cape dan ngantuk, tapi wajah kegembiraan saya lihat karena banyak diantara kami yang belum pernah naik kreta api dan pada kesempatan itulah kesempatan pertama. Kreta berjalan walaupun dengan perlahan tapi pasti. Ketika jarak yang tidak jauh lagi menuju stasiun yang akan segera kami turun, suasana mendadak berubah menjadi tegang dan tidak terkendali karena banyaknya copet yang beraksi di depan kami dan bisingnya para pengamen dan pedagang, apalagi ketika peristia buruk menimpa teman saya, yaitu Wahyu. Dia sampai kena pukulan pencopet yangt tidak berhasil mencopetnya. Saya kira semua itu terjadi agar menjadi genaplah suasana perasaan kami yang dari awal rekan-rekan harus bersabar karena ketinggalan kreta api dan sewaktu kegiatan kegembiraan yang kami dapatkan, maka Allah mungkin menegur kita lewat ketegangan atau musibah yang menimpa wahyu. Tapi yang jelas semua ini berada dalam skenario Allah, dan semua ini tidak terlepas dari Ibrah yang mesti kita ambil.
Untuk mencairkan suasana ketegangan itu, maka saya mengaak rekan-rekan instruktur untuk ngBaso bareng n Gretongan alias ditraktir. Ternyata benar-benar kami merasakan perbedaan pada kegiatan kali ini dibanding kegiatan-kegiatan sebelumnya. Kali ini suasana akrabisasi, kerja keras dan kerjasama sangat terasa sekali.
Setelah itu pulang deh ke habitatnya masing-masing, semoga segala pengorbanan dan perjuangan rekan-rekan dicatat oleh Allah SWT. Sebagai Amal Shaleh. Aamin!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar