Kamis, 12 Februari 2009

Ta'aruf; Masa Kecilku (bag 1)

Alhamdulillah, rasa syukur ini saya panjatkan kepada Allah yang telah meanugerahkan berbagai petualangan hidup yang berarti, dimana petualangan itu tidak semua orang bisa merasakannya. Terima kasih atas komentarnya kepada para sahabat-sahabat,.
Saya terlahir dari keluarga yang cukup sederhana, yang hari ini diantaranya adalah sosok seorang Irham Fathiyyah Shulha adalah anak yang ketiga dari tujuh bersaudara. Ayah saya hanya seorang guru di pesantren dan pengisi pengajian di Masjid-masjid terdekat adapun aktifitas ibu saya selain menjadi seorang IRT dia juga mengelola Madrsah dan Taman Kanak-kanak Islam (RA) yang dirintis bersama ayah saya di lingkungan tempat saya tinggal.
Saya terlahir menjadi anak yang dianugerahi perbedaan yang cukup kontras diantara adik dan kaka saya. Dari sejak kecil saya sudah mulai belajar berwirausaha (berdagang)walaupun saya sering gagal, kegiatan ini saya lakukan tidak karena disuruh oleh kedua orang tua saya. Ntah apa yang mendorong saya untuk menjadi seorang enterpreiner, yang jelas itu sudah menjadi hobi saya sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Selain itu masih di bangku SD, saya sering di jadikan sebagai pemimpin dalam segala aktifitas kegiatan anak-anak dilingkungan saya, dari mulai kegiatan bermain, memimpin pawai obor (dimalam agustusan) samapai olahraga. Disinilah jiwa kreatif saya mulai muncul, saya menjadi seorang anak yang sering mendapatkan teguran (bahkan samapai dimarahi) baik oleh orang tua saya sendiri maupun oleh para orang tua teman-teman saya pada waktu itu, karena banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saya lakukan selalu bertentangan dengan kebiasaan yang tidak lazim di lakukan anak-anak. Pada intinya saya di cap sebagai anak yang nakal. Selain aktifitas-aktifitas tersebut kami sering berkumpul untuk membuat sebuah kreatifitas baik itu kerajinan tangan maupun bentuknya hiburan dari mulai nyanyian sampai dunia sandiwara (drama).
Semua sifat-sifat di atas ternyata tidak terdapat pada adik dan kaka saya. Selain diatas perbedaan yang cukup menonjol yaitu dalam bidang akademis, dalam bidang ini say memang memiliki masa lalu yang cukup suram. Saya menjadi seorang anak yang malas dalam belajar tidak seperti saudara saya yang lain yang selalu mendapatkan pringkat yang baik di kelasnya. Selain dunia akademis ternyata saya pun menjadi seorang anak yang sering ditindas oleh teman-teman yang lain ketika saya di sekolah, saya sering di "pajeg" sampai di pukuli. Saya pun sering di marahi oleh kedua orang tua saya disebabkan kemalasan saya dalam belajar. Tapi bagaimanapun saya diperlakukan pada waktu itu saya tidak peduli dan tidak pernah berpikir untuk berubah.
Dari perjalanan hidup ini semakin bertambah usia maka semakin bertambah pula kedewasaan yang saya miliki, sehingga menuntut saya untuk berpikir tentang keberadaan saya. Saya mulai menyadari perbedaab-perbedaan yang Allah anugerahkan kepada saya dan saudara-saudara saya yang lain. Dimana saudara-saudara saya tidak diberikan kedekatan dengan masyarakat yang ada di lingkungan, sehingga terkadang keluar rumah saja mereka malu apalagi sampai ngobrol-ngobrol dengan yang lain. Tetapi disinilah hikmah yang Allah berikan diwaktu saya kecil, masyarakat menjadi dekat dan mudah berkomunikasi dengan saya.
Jadi memang di satu sisi Allah memberikan kelebihan bagi saya disisi lain bagi saudara-saudara saya itu sebagai kekurang, begitupun sebaliknya.
Maka dari sinilah saya banyak mendapatkan hikmah kehidupan, sehingga menuntut saya untuk berpikir dan merubah pola hidup saya sehingga melahirkan motivasi pada pribadi saya bagaimana saya mampu merubah citra diri saya dan memberikat bukti konkrit kepada kedua orang tua dan keluarga saya bahwa saya adalah anak yang berguna bukan hanya bagi keluarga tetapi bagi masyarakat sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar